Sekartaji

Isu Lingkungan, Perempuan dan Globalisasi di Indonesia

Thursday, April 20, 2006

Kertas Hand Made - Kontribusi Kecil Pada Ekonomi Desa




Satu hal yang terus menerus mengusik pikiran, adalah semakin sepinya desa-desa kita di Jawa. Hampir semua dewasa muda, bahkan remaja pergi ke kota atau bahkan keluar negeri dalam upaya memperbaiki nasibnya. Di desa, memang hampir tak ada peluang untuk ini, apalagi jika tak punya tanah sawah. Bahkan yang memiliki sawahpun kini mengalami kesulitan luar biasa karena tingginya biaya produksi pertanian.

Subur Gemi Nastiti, suatu komunitas usaha kecil yang dibangun dengan tujuan menghidupkan ekonomi desa dengan berbasis pada sumberdaya alam dan manusia desa mencoba mengembangkan lapangan kerja yang bermartabat untuk masyarakat desa, yang sekaligus dirancang untuk membuka cakrawala dan merajut hubungan antara orang desa dengan orang di kota, bahkan di manca negara. Subur Gemi Nastiti, hingga kini telah berjalan hampir dua tahun. Ceruk produksi yang dipilih adalah segala bentuk kerajinan berbasis sumber daya alami, yang pertama adalah kertas hand made.

Tak ada suntikan dana dari pihak luar untuk usaha ini. Perjalanan dan perjuangan awalnya juga cukup sulit. SGN mempekerjakan 6 orang purna waktu untuk belajar membuat kertas hand made yang berkualitas. Butuh waktu hampir setahun untuk mendapatkan hasil yang kian sempurna, juga untuk membuka pintu kreatifitas mengembangkan produk berikutnya seperti buku misalnya. Modal awal lebih dari 100 jt (untuk biaya operasional selama 1 tahun dan membeli peralatan awal berupa mesin mengaduk bubur kertas, cetakan, dan penyiapan lahan jemuran. Uang ini didapatkan sebagai pinjaman bank), dikeluarkan oleh pendiri awal SGN (Bram).. kepada semua pekerja diungkapkan bahwa kelanjutan usaha ini hanya dapat terjadi jika pada akhir tahun pertama, gaji dan operasional dapat dibiayai sendiri oleh SGN.

Kini komunitas SGN sudah dapat menghasilkan kertas yang bagus, dan hampir dapat membiayai dirinya sendiri. Hutang di bank memang harus dibayar dari sumber lain. Untuk memulai sesuatu seperti ini pada awalnya mungkin memang perlu subsidi. Bukan saja subsidi uang, tapi juga tenaga dan waktu. Pendiri lain dari SGN (Sari) - mendedikasikan 100 persen waktunya untuk memotivasi dan melatih para pembuat kertas ini. Tantangannya banyak, terutama dalam hal menumbuhkan sense dalam diri para pembuat kertas untuk ingin menghasilkan kesempurnaan dan keindahan. Bahwa ada kepuasan tersendiri dalam berkarya - disamping menerima imbalan uang. Bahwa jika sense untuk kesempurnaan dan keindahan ini kuat, maka akan juga lebih mudah mendapatkan hal yang lain (seperti uang, jaringan orang orang, pengalaman baru, cakrawala yang berkembang)..

Kini cakrawala sudah mulai lebih bercahaya - bagi usaha pembuatan kertas hand made di desa Sekaralas - berkat ketekunan SGN dan komunitasnya. Dalam gambar diatas tampak Salah satu anggota SGN memanen enceng gondok dan hasil 'art paper' dari berbagai serat alam, termasik enceng gondok dan gedebok pisang. Bahkan mulai juga dikembangkan karya lain dari sumberdaya desa - kini orang-orang SGN mulai mengeksplorasi seni mote kayu dari berbagai jenis kayu yang tersedia di desa seperti kayu nangka, trembesi, sawo, jati dan lainnya. Untuk ini hanya dahan-dahan yang digunakan, tak pernah menebang pokok pohon. Blog berikut akan bercerita tentang mote ini.

Salam.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home